Senin, 29 November 2010

Kesenian Tandjidor Betawi

Tanjidor adalah Salah satu kekayaan Budaya indonesia yang dimiliki secara khusus orang suku Betawi.Kesenian Tanjidor lahir  pada saat penjajahan Belanda,sebelum perbudakan dihapuskan sekitar akhir abad 18.Tanjidor awalnya dimainkan oleh Budak-budak Belanda. Ketika Belanda berkuasa, para pejabatnya memiliki rumah yang tersebar di sekitar Batavia.Maka para budak juga turut di tugaskan di sana. Dalam waktu senggang nya, para budak tersebut sering memainkan sebuah music di dalam sebuah kelompok.Konon,salah seorang Gubernur Jenderal Belanda Valckenier menggabungkan rombongan 15 orang pemain alat musik tiup Belanda dengan pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turkiuntuk memeriahkan pesta.Karena biasa dimainkan oleh budak-budak,orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes.
tanjidor betawi
Kesenian tanjidor ini sudah dimulai sejak abad ke-19.Istilah Tanjidor  ini sendiri berasal dari bahasa Portugis,yaitu “Tanger” yang berarti memainkan alat musik.Kesenian tanjidor dipercaya banyak mendapatken pengaruh dari kebudayaan China dan berbagai negara di Eropa seperti Belanda dan Perancis. Alat-alat musik yang digunakan terdiri dari alat musik tiup seperti piston (cornet a piston), trombon, tenor, klarinet, bas, dilengkapi dengan alat musik pukul membran yang biasa disebut tambur atau genderang.Sering juga ditambah dengan alat musik gesek seperti tehyan,Kesenian tanjidor ini sering terlihat di acara pernikahan,untuk mengiringi pengantin (mengarak pengantin) atau dalam acara pawai daerah.Tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat yang akan dihadiri oleh masyarakat Betawi secara luas layaknya sebuah orkes. Kesenian Tanjidor juga terdapat di Kalimantan Barat, sementara di Kalimantan Selatan sudah punah.Menurut beberapa keterangan, orkes itu berasal dari orkes yang semula dibina dalarn lingkungan tuan-tuan tanah, seperti tuan tanah Citeureup, dekat Cibinong.
Lagu-lagu yang sering kali dibawakan dalam orkes tanjidor, menurut istilah setempat adalah “Batalion”, “Kramton” “Bananas”, “Delsi”, “Was Tak-tak”, “Cakranegara”, dan “Welmes”. Pada perkembangannya,kemudian orkes tanjido lebih banyak membawakan lagu-lagu rakyat Betawi seperti Surilang “Jali-jali dan sebagainya, serta lagu-lagu yang menurut istilah setempat dikenal dengan lagu-lagu Sunda gunung, seperti “Kangaji”, “Oncomlele” dan sebagainya.
Daerah penyebaran Tanjidor,selain di daerah pinggiran kota Jakarta, adalah di sekitar Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung dalam wilayah Kabupaten Bogor, di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.
Oleh masyarakat pendukungnya Tanjidor biasa digunakan untuk memeriahkan hajatan seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya, atau pesta-pesta umum seperti untuk merayakan ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan. Sampai tahun lima puluhan rombongan-rombongan Tanjidor biasa mengadakan pertunjukan keliling, istilahnya “Ngamen”. Pertunjukan keliling demikian itu terutama dilakukan pada waktu pesta Tahun Baru, baik Masehi maupun Imlek.
Sesuai dengan perkembangan jaman dan selera masyarakat pendukungnya, Tanjidor dengan biasa pula membawakan lagu-lagu dangdut. Ada pula yang secara khusus membawakan lagu-lagu Sunda Pop yang dikenal dengan sebutan “Winingan tanji”.
Tanjidor,Saat ini………..
Pada zamannya, musik Tanjidor merupakan musik wajib yang ada disetiap pergelaran acara-acara rakyat di betawi.Tapi itu dulu, kini masa keemasan seniman tanjidor mulai suram karena tak ada generasi yang meneruskan.Sebenarnya sekarang ini masih ada beberapa grup musik tanjidor yang mencoba bertahan.Tetapi para seniman tanjidor itu kini terpinggirkan di kawasan Bekasi, Tangerang, dan Depok.
Sebenarnya tidak beda jauh dengan masa kejayaan dahulu,seniman tanjidor tetap bergantung pada adanya acara pergelaran rakyat,mereka mengandalkan panggilan pentas di beberapa acara saja.Tetapi untuk zaman sekarang ini,pergelaran kebudayaan sudah jarang sekali di adakan.Dengan begitu,musisi tanjidor saat ini lebih jarang melakukan pentas dari pada zaman dulu.Peralatan musik yang dulu menjadi senjata dalam memeriahkan orkes tanjidor,sekarang lebih banyak menjadi hiasan di sanggar-sanggar dan museum budaya.Walaupun terkadang seniman tanjidor berkumpul untuk memainkan alat musik yang sudah menua, setua umur mereka.Saat ini para musisi tanjidor usia lanjut harus berjuang sendiri dalam merawat dan memainkannya.Walaupun masih ada juga anak muda yang melestarikanya,tapi jumlahnya sangat terbatas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar